A Tribute to Chairil
Anwar
Mimpi Buruk Reog Ponorogo
Hampir
sejangkauan saja, ia pergi meninggalkan dunia damainya
Tercampakkan
oleh kasih,
Dalam
peraduan adat para garuda perkasa
Cinta
dan magis jiwa dalam raganya nan gagah itu,
Sirna
akan masa yang suram kini
Kegelapan
malam demi malam,
Kini
harus kelam
Tanpa
rembulan yang hangatkan desahan dingin
Tiap
denting masa kilaunya
Jiwa
raganya yang terenggut tak berdaya
Akan
bangsa yang tiada keagungan buah cipta karsa
Dengan
sadisnya menarik prahara perkasa itu
Yang
selama ini kita biarkan terlentang tiada guna
Lantas,
Siapakah
pemilik hati yang patut disalahkan?
Kitakah?
Atau
para pencuri tiada hati itu?
Namun,
mungkin semalam tanpa rembulan
Tanpa
rembulan yang hangatkan desahan angin dingin
Tanpa
kemilau sepoi damai gemintang
Hanyalah
mimpi buruk insani bangsa jaya, bhineka tunggal ika
Reog
Ponorogo yang agung…..
Ketahuilah,
bagaimanapun dunia kini
Kau
tetaplah dalam sanubari kami
Tarian
magismu yang melejitkan setiap tatapan
insani
Melodimu
yang gentarkan semangat cinta kami
Rasa
bangga dan besar hati kami
Akan
sosokmu, budaya jaya negeri kami
Indonesia….
Oleh : Aulia Puspita S
Sekolah : SMA GIKI 1 Surabaya
A Tribute to Chairil
Anwar
Elegi Dawai Kecapi
Tersibak
menjauh
Senandung
indah, dawai usang itu
Terlentang
tiada daya dan guna
Dari
cinta nian insan
Kerinduan
akan roman yang tercuplik
Dalam
nada dan melodi sederhana
Di
senja yang kian kelam dalam peraduan,
Di
ufuk barat yang jingga merona itu
Tampak
lelaki berkulit coklat legam dan kurus
Meronta
berlari, menelusuri setapak persawahan yang menguning keemasan
Dan
mendekati pendapa nan reot itu
Terdengar
suara rintihan yang terseok
Menggaung
dalam kelemahan
Ia
pun berkata dalam isak tangis pasrahnya,
“Wahai
Bocah…
Di
manakah cinta indah berada?”
“Di
manakah istana kebahagian sejati kini?”
Akankah
ada yang merindukanku
Dalam
kedamian lembut melodiku
“Nyanyian
indah dawaiku?”
“Aku
rindu pelukan setia kasih manusia akan budayanya
Jati
jiwa raganya di masa lalunya.”
“Apakah
aku tiada berarti di zaman zalim ini?”
Kata
dawai kecapi seraya menangis
Melontarkan
amarahnya dalam nadanya yang menggema saat itu
“Wahai
Bocah budiman….
“Jiwaku
terkapar lemah
Menahan
rentetan keangkuhan jiwa picik para insan yang agungkan budaya lain
Di
atas tanah suci leluhur jantung hatinya!”
Dan
bocah itu tersenyum manis kepada sang kecapi itu,
“Tuan
Kecapi, Daku di sini merindukan kedamaian indah melodimu.”
Katanya
seraya menggapai kecapi itu dan memainkan satu tembang indah
Yang
menenangkan alam senja kaki gunung itu…
Nama
: Aulia Puspita S
Sekolah : SMA GIKI 1 Surabaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
please welcome :)