Rabu, 12 September 2012

TRibute to CA


A Tribute to Chairil Anwar


Mimpi Buruk Reog Ponorogo


Hampir sejangkauan saja, ia pergi meninggalkan dunia damainya
Tercampakkan oleh kasih,
Dalam peraduan adat para garuda perkasa
Cinta dan magis jiwa dalam raganya nan gagah itu,
Sirna akan masa yang suram kini

Kegelapan malam demi malam,
Kini harus kelam
Tanpa rembulan yang hangatkan desahan dingin
Tiap denting masa kilaunya

Jiwa raganya yang terenggut tak berdaya
Akan bangsa yang tiada keagungan buah cipta karsa
Dengan sadisnya menarik prahara perkasa itu
Yang selama ini kita biarkan terlentang tiada guna

Lantas,
Siapakah pemilik hati yang patut disalahkan?
Kitakah?
Atau para pencuri tiada hati itu?

Namun, mungkin semalam tanpa rembulan
Tanpa rembulan  yang hangatkan desahan angin dingin
Tanpa kemilau sepoi damai gemintang
Hanyalah mimpi buruk insani bangsa jaya, bhineka tunggal ika

Reog Ponorogo yang agung…..
Ketahuilah, bagaimanapun dunia kini
Kau tetaplah dalam sanubari kami
Tarian magismu yang  melejitkan setiap tatapan insani
Melodimu yang gentarkan semangat cinta kami
Rasa bangga dan besar hati kami
Akan sosokmu, budaya jaya negeri kami
Indonesia….



 Oleh : Aulia Puspita S
Sekolah : SMA GIKI 1 Surabaya

A Tribute to Chairil Anwar

                                       Elegi Dawai Kecapi


Tersibak menjauh
Senandung indah, dawai usang itu
Terlentang tiada daya dan guna
Dari cinta nian insan

Kerinduan akan roman yang tercuplik
Dalam nada dan melodi sederhana
Di senja yang kian kelam dalam peraduan,
Di ufuk barat yang jingga merona itu

Tampak lelaki berkulit coklat legam dan kurus
Meronta berlari, menelusuri setapak persawahan yang menguning keemasan
Dan mendekati pendapa nan reot itu

Terdengar suara rintihan yang terseok
Menggaung dalam kelemahan
Ia pun berkata dalam isak tangis pasrahnya,

“Wahai Bocah…
Di manakah cinta indah berada?”
“Di manakah istana kebahagian sejati kini?”
Akankah ada yang merindukanku
Dalam kedamian lembut melodiku
“Nyanyian indah dawaiku?”
“Aku rindu pelukan setia kasih manusia akan budayanya
Jati jiwa raganya di masa lalunya.”
“Apakah aku tiada berarti di zaman zalim ini?”
Kata dawai kecapi seraya menangis
Melontarkan amarahnya dalam nadanya yang menggema saat itu

“Wahai Bocah budiman….
“Jiwaku terkapar lemah
Menahan rentetan keangkuhan jiwa picik para insan yang agungkan budaya lain
Di atas tanah suci leluhur jantung hatinya!”

Dan bocah itu tersenyum manis kepada sang kecapi itu,
“Tuan Kecapi, Daku di sini merindukan kedamaian indah melodimu.”
Katanya seraya menggapai kecapi itu dan memainkan satu tembang indah
Yang menenangkan alam senja kaki gunung itu…



Nama : Aulia Puspita S
          Sekolah : SMA GIKI 1 Surabaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

please welcome :)