Selasa, 15 Agustus 2023

new chapter of me

Hey, I am here, hay myself, I vibe that you are happy now? see? I know it is right. Congratulation to you. You have passed many things, and you don't want to suffer anything again. You have chosen well, you've already known how to respect and love yourself.
and then what next now?

you owe yourself? your times.. have you counted them? you see people already reach out what they want, and you want to, you deeply know yourself that others don't. aul, please, you have limited time, you choose you to decide and go get it. you can imagine, right? what can you give to your parent and the people you love, if you already have money enough? be faithful aul, determined. choose what you want you need. declare it to your mind. okay?

1. I want to help my mom's necessities
2. I want to be able to give her some money
3. I want to be free from owe
4. I want to charity to Titikbalik and robwah foundation
5. I want to give more to Chai
6. I want to take an English course
7. I want to buy some outfit
8. I want to pay for the gym

August: insyaa Allah, I can: I want to be free from owe and I want to pay for the gym
don't spend your money on something useless, count the beneficiary.  if you go out and use money, think again, what will u use your money?

oya, don't forget, everyday night insyaa allah you have to write anything here. no matter what. and you have to listen to the radio, and learning masterclass books. 
spiritual exercises: insyaa allah you have to pray tahajud, get fast sunnah, reading Quran fajr, and charity every Friday about how much you have it is not a big deal.

Kamis, 15 Juni 2017

Wanita bisa

Banyak orang yang membicarakan kesetaraan gender dan hak asasi sebagai wanita. Sederhananya adalah,  tidak ada yang melarang wanita berkarya sebaik-baiknya karya itu.  Termasuk melahirkan dan menumbuhkan sebuah generasi,  menciptakan suatu gagasan ataupun produk, dan mengabdi pada sekitarnya. Banyak hal yang setiap wanita tentu ia harapkan dalam benaknya. Seperti memanjankan diri,  tertawa, dan berkumpul dengan orang-orang yang mereka kasihi. Banyak sekali hal yang sesekali sebagian orang berpikir bahwa tugasnya begitu banyak sehingga kesenangan terhimpit dngan kewajibannya.  Namun tidaklah demikian. Karena setiap kesibukan memiliki takarannya masing-masing. Sesederhana apapun atau bahkan serumit apapun yang ia lakukan. Karena wanita dengan segala kelembutannya dan dengan segala kepeduliannya dengan sekitar menjadikannya semakin anggun dan cantik cemerlang. Jadi, tetap selalu jadilah seorang wanita yang mampu mengimspirasi dan memotivasi. Karena perjalanan kita setelah kehidupan ini masih sangatlah panjang dan banyak bekal yang harus kita kumpulkan. Di samping tetap jadikan rumah sebagai bahtera yang paling utama, namun jangan lupa, milikilah tempat untuk kita berserikat dan berbagi kebaikan melalui pengabdian. Apapun pendapat dan profesinya, wanita adalah tiang suatu Negara. Semakin ia mampu untuk memperjuangkan kebaikan, semakin baik martabat Negaranya.  Iya.  INDONESIA.  WANITA INDONESIA.
Jangan berhenti berkarya yaa wanita-wanita Indonesia :)

Rabu, 14 Juni 2017

Pohon bambu dan mistisnya

Pohon Bambu dan Mistinya
Budaya adalah salah satu agen dari faktor tegaknya suatu Negara.  Tidak dapat dipungkiri,  sebab semodern atau setertinggalnya suatu peradaban,  hal tersebut akan tetap hidup dan dikenang oleh generasi lainnya.  Bilamana waktu telah dilepas dan tak lagi dikokohkan keberadaannya,  seolah segala sesuatunya dapat diasumsikan sebagai sejarah.  Beberapa berkata tidak demikian. Sekalipun tahun menutup tahun yang lalu dan masa membuka cakrawala baru,  keberadaannya lebih dari sekadar tanda suatu masa. Itulah budaya.
Budaya bukanlah hal termudah untuk dijadikan suatu obyek kehidupan.  Sebab,  semua orang bisa dikatakan tidak bersalah dalam setiap apa yang mereka pilih dan mereka yakini.
Sebagai salah satu contohnya adalah pohon bambu dan adanya hantu yang menumpanginya.  Sebagaimana kebenarannya,  tidak bisa dianggap mutlak bahwa pohon tersebut ada penunggunya.  Sering kali orang akan hidup sembarangan berdasarkan pada egonya.  Seperti membuang sampah hingga kencing ataupun menebang pohon,  terutama pohon bambu itu sendiri.  Melalui adanya cerita hantu yang singgah itu memiliki nilai plus,  bahwa orang orang-orang tidak akan berani mendekati apalagi menebang atau merusak.  Sehinga dengan adanya cerita mistis yang menempel pada pohon bambu,  menjadi salah satu contoh budaya yang digenggam oleh masyarakat.  Dan kita menyebutnya sebagai kearifan lokal :)

Selasa, 13 Juni 2017

Museum

Museum
Bila kau ingin mengenal darahmu
Pergilah dan carilah ilmu yang berkata tentangmu
Yang menjadikan dirimu adalah permata tiada tara
Luhur nan agung
Kau akan mampu mengenal
Sayap sayap yang dulu terbentang agung
Dan secarik cerita tertulis yang magis
Bak filusuf dalam agama
Saklar dan tak termakan zaman
Kau bagaikan pesolek anggun dalam paras yang nyata
Sebab sejarah tak akan musnah
Terkenang dan abadi dalam masa
Walau masa tak akan berkata tentangnya
Namun semesta telah merantainya dengan kencang
Bahwa masa silam. Berintegrasi dengan masa kini dan nanti
Siapakah kau
Adalah jiwa yang harus kau sadari
Darah biru muu adalah bukti bahwa nenek moyang bukan hanya pelaut
Nenek moyang adalah pembangun generasi dan pembebas belenggu... 

Senin, 12 Juni 2017

Prahara menjadikanku sebagai jiwa yang baru

Pada saat itu prahara kota menjadi kian berguncang
Membangkitkan gemuruh awan yang mulai berpendar dan merapat
Suara pekikan di atas bumi menjadi gema diantara belantara 
Angin yang mulai meratap meyampaikan pilunya
Air mata manusia yang mulai mendingin dan mengering
Kehidupan menjadi tidur dan tercecer diantara tanah yang gersang

Aku berdiri di atas rumput sambil mengutuk
Sekumpulan manusia menyantap makanan dengan bejana
dan buah buah yang dilahapnya serta kekayaan bumi yang bukan miliknya
Mereka memandangku hanya dengan balasan gelagak tawa
Mereka pikir aku adalah raga dengan jiwa yang kalah?
Seketika jiwaku serasa bagai sebatang pohon yang tua
Akar semangatku bak menghujam ke dalam lapisan tanah
Dan cabang nyaliku menjulang tak terhingga
Apa gerangan aku?

Seketika rakyat mengangkat haknya atas ketertindasan rezim yang dilaknatnya
Dan bumi tak lagi tersungkur kepada manusia manusia serakah
Dan ribuan manusia kelaparan yang tak siap mati
Harus menanggungnya sendiri
Menanggalkan mimpi demi mimpi
Menukarnya dengan malam malam dingin 
yang sarat akan rintihan, keluh, dan pilu
Serta tulang belulang yang hampir mati dan mengelantang
Namun, mereka masih mengangkat pedang dan tombak tombak usang
Demi sebuah harga diri, dan martabatnya sebagai manusia tuhan

Aku membatin?
Masih tidak cukupkah harta kami, jajah kami dan cabut hak kami, hingga kami dalam relung kebodohan dan ketertindasan semata"

Kebencian kutempatkan dalam sebongkah batu , sebentuk laknat, yang akan kulempar dalam mulut mereka, dan memenuhi perut mereka dengan permusuhan, dan menjadikannya mual dari ususnya

Wanita wanita yang dikoyak harga dirinya,
Anak anak yang kurus dan tak sekolah
Pemuda-pemuda yang dijadikan budak dan pemuas nafsu angkara murka

Begitukah negeriku
Takdir dimana aku tumbuh dan belajar mengenal langit yang luas
Namun tak seluas pemikiran orang-orang negeriku?

Di depan taktah keindahan yang begitu jauh,
Aku melihat keramaian
Terkadang kuikuti arah matahari
Kadang aku berlari semauku
Mencari lembah dengan sebuah perlindungan
Dan dedahan pohon yang rindang
Menemaniku duduk dan bercengkrama dengan alam
Sekali lagi kukatakan, keindahan akan kusaksikan memberi lebih baik daripada menerima.. Saat itu, aku tak membayangkan aoa yang terjadi padaku setelah itu....

#30dwc #day26 #squad5

Selasa, 06 Juni 2017

Mimpi Buruk Reog Ponorogo

Mimpi Buruk Reog Ponorogo


Hampir sejangkauan saja, ia pergi meninggalkan dunia damainya
Tercampakkan oleh kasih,
Dalam peraduan adat para garuda perkasa
Cinta dan magis jiwa dalam raganya nan gagah itu,
Sirna akan masa yang suram kini

Kegelapan malam demi malam,
Kini harus kelam
Tanpa rembulan yang hangatkan desahan dingin
Tiap denting masa kilaunya

Jiwa raganya yang terenggut tak berdaya
Akan bangsa yang tiada keagungan buah cipta karsa
Dengan sadisnya menarik prahara perkasa itu
Yang selama ini kita biarkan terlentang tiada guna

Lantas,
Siapakah pemilik hati yang patut disalahkan?
Kitakah?
Atau para pencuri tiada hati itu?

Namun, mungkin semalam tanpa rembulan
Tanpa rembulan  yang hangatkan desahan angin dingin
Tanpa kemilau sepoi damai gemintang
Hanyalah mimpi buruk insani bangsa jaya, bhineka tunggal ika

Reog Ponorogo yang agung…..
Ketahuilah, bagaimanapun dunia kini
Kau tetaplah dalam sanubari kami
Tarian magismu yang  melejitkan setiap tatapan insani
Melodimu yang gentarkan semangat cinta kami
Rasa bangga dan besar hati kami
Akan sosokmu, budaya jaya negeri kami

Indonesia….

Senin, 05 Juni 2017

Elegi Dawai Kecapi

Elegi Dawai Kecapi


Tersibak menjauh
Senandung indah, dawai usang itu
Terlentang tiada daya dan guna
Dari cinta nian insan

Kerinduan akan roman yang tercuplik
Dalam nada dan melodi sederhana
Di senja yang kian kelam dalam peraduan,
Di ufuk barat yang jingga merona itu

Tampak lelaki berkulit coklat legam dan kurus
Meronta berlari, menelusuri setapak persawahan yang menguning keemasan
Dan mendekati pendapa nan reot itu

Terdengar suara rintihan yang terseok
Menggaung dalam kelemahan
Ia pun berkata dalam isak tangis pasrahnya,

“Wahai Bocah…
Di manakah cinta indah berada?”
“Di manakah istana kebahagian sejati kini?”
Akankah ada yang merindukanku
Dalam kedamian lembut melodiku
“Nyanyian indah dawaiku?”
“Aku rindu pelukan setia kasih manusia akan budayanya
Jati jiwa raganya di masa lalunya.”
“Apakah aku tiada berarti di zaman zalim ini?”
Kata dawai kecapi seraya menangis
Melontarkan amarahnya dalam nadanya yang menggema saat itu

“Wahai Bocah budiman….
“Jiwaku terkapar lemah
Menahan rentetan keangkuhan jiwa picik para insan yang agungkan budaya lain
Di atas tanah suci leluhur jantung hatinya!”

Dan bocah itu tersenyum manis kepada sang kecapi itu,
“Tuan Kecapi, Daku di sini merindukan kedamaian indah melodimu.”
Katanya seraya menggapai kecapi itu dan memainkan satu tembang indah
Yang menenangkan alam senja kaki gunung itu…