KATA PENGANTAR
Puji syukur kita
panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah melimpahkan segala
nikmatnya dan berkahnya hingga kami mampu menyelesaikan tugas akhir semester
bidang studi kimia ini dengan
sebaik-baiknya. Atas dasar terselesaikannya karya ilmiah ini, kami turut mengucapkan rasa terima kasih
kepada pihak-pihak yang teah terkait dan membantu memudahkan kami dalam
menyelesaikan setiap proses demi proses yang harus kami tempuh.
Tak hanya itu,
dalam karya ilmiah ini kami akan menjelaskan mengenai suatu tea yang akan kami
kupas sehingga ke depannya mungkin dapat bermanfaat bagi para generasi penerus
kami. Diantaranya sepeti fakta-fakta yang kami dapatkan dari beberapa
narasumber, yaitu browsing internet, kajian pustaka, dan hasil observasi
lapangan. Sehingga materi yang akan kami sajikan akan berkesinambungan dan
memenuhi tujuan yang telah ditargetkan.
Kepada Bapak
Kepala SMA GIKI 1 Surabaya, pembimbing bidang studi kimia, teman-teman kelompok
dan para orangtua, kami ucapkan terima
kasih atas dorongan dan motivasi yang telah membantu kami hingga semuanya
berjalan lancar. Namun kami tetap menyadari bahwa masih banyak terdapat
kekurangan dalam penyajian karya ilmiah ini. Untuk itu, kami mohon maaf untuk
setiap ketidakberkenanan di hati pembaca. Saran dan kritik pasti akan kami
terima sebagai acuan untuk lebih baik lagi pada karya-karya selanjutnya.
Surabaya, 20 Oktober 2011
Penulis
DAFTAR ISI
|
HALAMAN JUDUL
|
i
|
||
|
KATA PENGANTAR
|
ii
|
||
|
DAFTAR ISI
|
Iii
|
||
|
BAB I PENDAHULUAN
|
1
|
||
|
|
- Latar Belakang
|
1
|
|
|
|
- Rumusan Masalah
|
1
|
|
|
|
- Tujuan dan Manfaat
|
2
|
|
|
BAB II TELAAH
PUSTAKA
|
3
|
||
|
|
2.1 Pengertian Korosi
|
3
|
|
|
|
2.2 Benda yang dapat Berkorosi
2.3 Faktor Penyebab Terjadinya Korosi
|
4
|
|
|
|
|||
|
BAB
III METODE PENELITIAN
|
12
|
||
|
|
3.1 Teknik Penulisan
|
12
|
|
|
|
3.1.1 Metode
Studi Kepustakaan
|
12
|
|
|
|
3.1.2 Metode
Dokumentasi
|
12
|
|
|
|
3.2 Pengolahan Data
|
12
|
|
|
|
3.3 Teknik Analisa Data
|
12
|
|
|
BAB IV PEMBAHASAN
|
|||
|
|
4.1 Narkotika Masalah Bangsa Kita
|
13
|
|
|
|
4.2 Latar Belakang Penggunaannya
|
14
|
|
|
|
4.3 Ketergantungan Narkotika
|
16
|
|
|
|
4.4 Dampak Penyalahgunaan Narkotika
|
19
|
|
|
|
4.5 Cara yang Ditempuh untuk Menanggulanginya
|
25
|
|
|
|
|
|
|
|
BAB V PENUTUP
|
37
|
||
|
|
5.1 Kesimpulan
|
37
|
|
|
|
5.2 Saran
|
38
|
|
|
DAFTAR PUSTAKA
|
39
|
||
|
|
|
||
|
LAMPIRAN
|
|
||
|
- Daftar Gambar
|
|
||
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar Belakang
Penulisan
makalah ini kami susun berdasarkan atas tugas dari pembimbing pelajaran kimia kami untuk memenuhi target nilai
sebagai tiket mengikuti ujian-ujian selanjutnya. Tak hanya itu, adapula hal-hal
yang ingin kami peroleh dari pemilihan tema makalah ini, yaitu kami ingin
mengetahui dan mempelajari pengetahuan-pengetahuan yang terkandung dalam
pembahasan makalah ini. Berkaitan dengan materi pelajaran kimia semester I
pada bab II, yaitu “Reaksi Redoks dan Elektrokimia” pada subbab yang kelima.
Melalui tema yang ditentukan yaitu “Cara Pencegahan Korosi” kami mengangat
topic dari ilmiah ini dengan judul ‘Elektroplating Nikel dan Krom’.
1.2 Rumusan
Masalah
Dari latar belakang yang telah tertulis
di atas dapat dirumuskan ke dalam rumusan masalah yang akan dikupas
diantarannya :
1.3.1 Tujuan Penulisan
§ Untuk mengetahui
penyebab terjadinya masalah mengenai pengkorosian.
§ Mengetahui bagaimana proses terjadinya pengkorosian dan
hal-hal yang berkaitan dengan korosi yang terjadi pada benda-benda logam.
§ Mengetahui dampak dan pengaruh dari pengkorosian terhadap benda-benda
logam.
§ Mengetahui tentang bagaimana cara-cara agar logam tidak mengalami
pengkorosian.
1.3.2 Manfaat Penulisan
§ Mendapat informasi dari beberapa media mengenai hal-hal yang telah terjadi
pada logam secara kimiawi (pengkaratan) serta proses-proses lainnya yang berhubungan dengan kelogaman.
§
Mengetahui secara detail mengenai hal-hal yang berhubungan korosi,
penyepuhan serta reaksi-reaksi kimianya.
§ Menambah pengalaman dan pengetahuan, sebab proses kerja ini dilakukan tidak
secara teori analitik saja, namun dilakukan langsung di lapangannya.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Apakah korosi itu?
Korosi atau perkaratan sangat lazim terjadi pada besi. Besi merupakan
logam yang mudah berkarat. Karat besi merupakan zat yang dihasilkan pada
peristiwa korosi, yaitu berupa zat padat berwarna coklat kemerahan yang
bersifat rapuh serta berpori. Dampak dari
peristiwa korosi bersifat sangat merugikan. Contoh nyata adalah
keroposnya jembatan, bodi mobil, ataupun berbagai konstruksi dari besi
lainnya.Siapa di antara kita tidak kecewa bila bodi mobil kesayangannya
tahu-tahu sudah keropos karena korosi. Pasti tidak ada. Karena itu,
sangat penting bila kita sedikit tahu tentang apa korosi itu, sehingga bisa
diambil langkah-langkah antisipasi.
Peristiwa korosi sendiri merupakan proses elektrokimia, yaitu proses
(perubahan / reaksi kimia) yang melibatkan adanya aliran listrik. Bagian
tertentu dari besi berlaku sebagai kutub negatif (elektroda negatif, anoda),
sementara bagian yang lain sebagai kutub positif (elektroda positif,
katoda). Elektron mengalir dari anoda ke katoda, sehingga terjadilah
peristiwa korosi. Rumus kimia dari karat besi adalah Fe2O3.xH2O. berikut adalah persaan reaksi dari besi yang mengalami pengkorosian:
Dari reaksi terlihat bahwa korosi melibatkan adanya gas oksigen dan
air. Karena itu, besi yang disimpan dalam udara yang kering akan lebih
awet bila dibandingkan ditempat yang lembab. Korosi pada besi ternyata
dipercepat oleh beberapa faktor, seperti tingkat keasaman, kontak dengan
elektrolit, kontak dengan pengotor, kontak dengan logam lain yang kurang aktif
(logam nikel, timah, tembaga), serta keadaan logam besi itu sendiri (kerapatan
atau kasar halusnya permukaan).
2.2 Apakah Elektroplating itu?
Elektroplating dibuat dengan jalan mengalirkan arus listrik melalui larutan
antara logam atau material lain yang konduktif. Dua buah plat logam merupakan
anoda dan katoda dihubungkan pada kutub positif dan negatif terminal sumber
arus searah (DC). Logam yang terhubung dengan kutub positif disebut anoda dan
yang terhubung dengan kutub negatif disebut katoda. Ketika sumber tegangan
digunakan pada elektrolit, maka kutub positif mengeluarkan ion bergerak dalam
larutan menuju katoda dan disebut sebagai kation. Kutub negatif juga
mengeluarkan ion, bergerak menuju anoda
dan disebut sebagai anion. Larutannya disebut elektrolit.
dan disebut sebagai anion. Larutannya disebut elektrolit.
Hubungan antara voltase dalam elektrolit dan kekuatan arus listrik yang
mengalir ditunjukkan oleh hukum Ohm yaitu :

Besarnya listrik yang mengalir yang dinyatakan dengan Coulomb adalah sama
dengan arus listrik dikalikan dengan waktu. Dalam pemakaian secara umum atau
dalam pemakaian elektroplating satuannya adalah ampere-jam (Ampere-hour) yang
besarnya 3600 coulomb, yaitu sama dengan listrik yang mengalir ketika arus
listrik sebesar 1 ampere mengalir selama 1 jam.
Michael Faraday pada tahun 1833 menetapkan hubungan antara kelistrikan dan
ilmu kimia pada semua reaksi elektrokimia. Dua hukum Faraday ini adalah :
1. Hukum I : Jumlah dari tiap elemen atau grup dari elemen-elemen yang dibebaskan pada kedua anoda dan katoda selama elektrolisa sebanding dengan jumlah listrik yang mengalir dalam larutan.
2. Hukum II : Jumlah dari arus listrik bebas sama dengan jumlah ion atau jumlah substansi ion yang dibebaskan dengan memberikan sejumlah arus listrik adalah sebanding dengan berat ekivalennya.
1. Hukum I : Jumlah dari tiap elemen atau grup dari elemen-elemen yang dibebaskan pada kedua anoda dan katoda selama elektrolisa sebanding dengan jumlah listrik yang mengalir dalam larutan.
2. Hukum II : Jumlah dari arus listrik bebas sama dengan jumlah ion atau jumlah substansi ion yang dibebaskan dengan memberikan sejumlah arus listrik adalah sebanding dengan berat ekivalennya.
Hukum I membuktikan terdapat hubungan antara reaksi kimia dan jumlah total listrik
yang melalui elektrolit. Menurut Faraday, arus 1 Ampere mengalir selama 96.496
detik ( 26,8 jam) membebaskan 1,008 gram hidrogen dan 35,437 gram khlor dari
larutan asam khlorida encer. Seperti hasil yang ditunjukkan bahwa 96.496
coulomb arus listrik membebaskan satu satuan berat ekivalen ion positif dan
negatif. Oleh sebab itu 96.496 coulomb atau kira-kira 96.500 coulomb yang
disebut 1 Faraday sebanding dengan berat 1 elektrokimia. Untuk menentukan logam
yang terdeposisi dengan arus dan waktu dapat ditentukan :

Langkah selanjutnya adalah mengalikan bilangan Faraday dengan bilangan gram
yang diendapkan oleh 1 Faraday (gram ekivalen), maka persamaannya menjadi:

Untuk menentukan tebal pelapisan yang terjadi perlu diketahui berat jenis
dari logam yang terlapis pada katoda. Hubungan berat jenis dengan harga-harga
yang lainnya adalah sebagai berikut :

Efisiensi plating pada umumnya dinyatakan sebagai efisiensi arus anoda
maupun katoda. Efisiensi katoda yaitu arus yang digunakan untuk pengendapan
logam pada katoda dibandingkan dengan total arus masuk. Arus yang tidak dipakai
untuk pengendapan digunakan untuk penguraian air membentuk gas hidrogen, hilang
menjadi panas atau pengendapan logam-logam lain sebagai impuritas yang tak
diinginkan. Efisiensi anoda yaitu perbandingan antara jumlah logam yang
terlarut dalam elektrolit dibanding dengan jumlah teoritis yang dapat larut
menurut Hukum Faraday.Kondisi plating yang baik bila diperoleh efisiensi katoda
sama dengan efisiensi anoda, sehingga konsentrasi larutan bila menggunakan
anoda aktif akan selalu tetap.
Efisiensi arus katoda sering dipakai sebagai pedoman menilai apakah semua
arus yang masuk digunakan untuk mengendapkan ion logam pada katoda sehingga
didapat efisisensi plating sebesar 100 % ataukah lebih kecil. Adanya kebocoran
arus listrik, larutan yang tidak homogen dan elektrolisis air merupakan
beberapa penyebab rendahnya efisiensi.
Elektrolisis air merupakan reaksi samping yang menghasilkan gas hidrogen
pada katoda dan gas oksigen pada anoda.Reaksi elektrolisis air dapat dituliskan
sebagai berikut :

Secara praktis efisiensi plating dinyatakan sebagai perbandingan berat nyata terhadap berat teoritis endapan pada katoda.
Apabila logam dimasukkan pada larutan yang mengandung ionnya sendiri akan
menimbulkan beda potensial antara logam tersebut dengan larutan. Beda potensial
ini disebabkan karena atom dari logam untuk menjadikan satu atau lebih muatan
negatif dan lepas ke dalam larutan dalam bentuk ion.
Pada saat yang bersamaan terjadi reaksi kebalikan dalam larutan. Dua reaksi
yang berlawanan tersebut berlangsung pada kecepatan yang tidak sama, maka
potensial ini akan diatur oleh permukaan logam dan elekrolit yang berhubungan
dengan permukaan logam. Akhirnya kondisi setimbang tercapai dimana ionisasi dan
pelepasan berlangsung tepat pada kecepatan yang sama. Kesetimbangan ini disebut
dengan potensial kesetimbangan atau potensial bolak-balik pada partikel logam
pada laruan yang dipergunakan.

Potensial elektroda standar berdasarkan skala
hidrogen, dimana semua logam-logam sebelum hidrogen pada skala hidrogen mampu
menggantikan hidrogen dari larutan yang mengandung ion hidrogen, dan
logam-logam setelah hidrogen pada skala hidrogen biasanya tidak dapat
menggantikan hidrogen secara langsung. Berikut ini adalah skala hidrogen :

Logam seng, timah hitam dan timah putih dinamakan
logam dasar karena mudah larut di dalam asam dan ditunjukkan oleh tanda
potensial negatif, sedangkan kebalikan dari ketiga logam diatas adalah logam
mulia seperi tembaga, perak dan emas ditunjukkan oleh tanda potensial positif.
BAB III
METODOLOGI
3.1 Teknik Penulisan
Dalam
pengumpulan data-data saya menggunakan beberapa cara yang dimana itu semua
telah memberi saya sejumlah infoormasi yang cukup tepat, diantaranya :
1. Metode Studi
Kepustakaan
Melalui metode ini
saya mendapatkan sejumlah informasi yang bersumber dari:
1. Buku-buku
pengetahuan yang menyangkut tentang hal-hal yang berhubungan dengan lapisan
ozon.
2. Browser-browser dari internet dengan situs-situs tertentu.
2. Metode
Dokumentasi
Melalui
ini pula saya mendapat informasi lebih paham karena metode ini berupa gambar-gambar
atau foto-foto yang menyangkut hal yang dibahas.
3.
Cara Menganalisis Data
Dengan
cara menganalisis data yang telah saya dapatkan dari narasumber, ini telah saya
buat dengan cara membuat kesimpulan dari data yang telah saya dapat tersebut.
4. Metode Observasi
Dengan cara mewawancarai narasumber dari proses
penyepuhan yang kita peroleh dari kerja lapangan. Proses kerja didokumentasikan
dalam bentuk gambar/videonya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
please welcome :)