Senin, 05 Juni 2017

Elegi Dawai Kecapi

Elegi Dawai Kecapi


Tersibak menjauh
Senandung indah, dawai usang itu
Terlentang tiada daya dan guna
Dari cinta nian insan

Kerinduan akan roman yang tercuplik
Dalam nada dan melodi sederhana
Di senja yang kian kelam dalam peraduan,
Di ufuk barat yang jingga merona itu

Tampak lelaki berkulit coklat legam dan kurus
Meronta berlari, menelusuri setapak persawahan yang menguning keemasan
Dan mendekati pendapa nan reot itu

Terdengar suara rintihan yang terseok
Menggaung dalam kelemahan
Ia pun berkata dalam isak tangis pasrahnya,

“Wahai Bocah…
Di manakah cinta indah berada?”
“Di manakah istana kebahagian sejati kini?”
Akankah ada yang merindukanku
Dalam kedamian lembut melodiku
“Nyanyian indah dawaiku?”
“Aku rindu pelukan setia kasih manusia akan budayanya
Jati jiwa raganya di masa lalunya.”
“Apakah aku tiada berarti di zaman zalim ini?”
Kata dawai kecapi seraya menangis
Melontarkan amarahnya dalam nadanya yang menggema saat itu

“Wahai Bocah budiman….
“Jiwaku terkapar lemah
Menahan rentetan keangkuhan jiwa picik para insan yang agungkan budaya lain
Di atas tanah suci leluhur jantung hatinya!”

Dan bocah itu tersenyum manis kepada sang kecapi itu,
“Tuan Kecapi, Daku di sini merindukan kedamaian indah melodimu.”
Katanya seraya menggapai kecapi itu dan memainkan satu tembang indah
Yang menenangkan alam senja kaki gunung itu…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

please welcome :)