Elegi
Dawai Kecapi
Tersibak menjauh
Senandung indah, dawai usang itu
Terlentang tiada daya dan guna
Dari cinta nian insan
Kerinduan akan roman yang
tercuplik
Dalam nada dan melodi sederhana
Di senja yang kian kelam dalam
peraduan,
Di ufuk barat yang jingga merona
itu
Tampak lelaki berkulit coklat
legam dan kurus
Meronta berlari, menelusuri setapak
persawahan yang menguning keemasan
Dan mendekati pendapa nan reot
itu
Terdengar suara rintihan yang
terseok
Menggaung dalam kelemahan
Ia pun berkata dalam isak tangis
pasrahnya,
“Wahai Bocah…
Di manakah cinta indah berada?”
“Di manakah istana kebahagian
sejati kini?”
Akankah ada yang merindukanku
Dalam kedamian lembut melodiku
“Nyanyian indah dawaiku?”
“Aku rindu pelukan setia kasih
manusia akan budayanya
Jati jiwa raganya di masa lalunya.”
“Apakah aku tiada berarti di
zaman zalim ini?”
Kata dawai kecapi seraya menangis
Melontarkan amarahnya dalam
nadanya yang menggema saat itu
“Wahai Bocah budiman….
“Jiwaku terkapar lemah
Menahan rentetan keangkuhan jiwa
picik para insan yang agungkan budaya lain
Di atas tanah suci leluhur
jantung hatinya!”
Dan bocah itu tersenyum manis
kepada sang kecapi itu,
“Tuan Kecapi, Daku di sini
merindukan kedamaian indah melodimu.”
Katanya seraya menggapai kecapi
itu dan memainkan satu tembang indah
Yang menenangkan alam senja kaki gunung itu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
please welcome :)