Sabtu, 20 Mei 2017

Bersyukur memahami jiwa

Hakikat hidup yang mereka ajarkan bak filusuf usang, yang tak pernah diubah paradigmanya bahwa hidup adalah tempat mereka mampir utk minum.
Tak bisa kusebut demikian,  itu hanya secuil paradoks yang mensubyekkan usia.  Seperti yang mereka katakan bahwa sekarang ia cantik pada akhirnya ia keriput dan menua..
Bagiku tidak sesederhana ituu..
Ketika pencipta meniupkan seonggok nyawa kepadanya,  kebahagian itu telah dimulai, dr kesucian jiwa yang tumbuh dari jiwa yg disucikan dengan utuhnya cinta.. Yaa..  Itu jiwamu,  jiwaku,  dan jiwanya...
Masing masing tengah memegang kendali seutuhnya sebagai siempunya jiwa..

Lantas jika masih kausaksikan peluru peluru itu tiba tiba menancap dicelah jantung dan rusuk orang-orang yang sedang bercengkrama dengan handaitaulannya.  Dan bom yang dijatuhkan ditengah mereka yang tengah menikmati percakapan burung dan Fajar yang sedang menyingsing,  hingga syahdu alam terpecah liar bak memberimu pendengaran bahwa daun dari dedahanan pohon itu jatuh menyentuh tanah dan menabrak seresah.. Serta kepala kepala manusia yang kelaparan menangis mengais sisa darimu..
Kau dengan kesendirianmu yang duduk tak tergerakkan..  Dan masih merasa jiwamu sarat akan kehausan tahta??.. Kau ingat bahwa hidup harusnya kau buat layaknya oasis ditengah sahara Utara..
Jikalau disini kau berdiiri lemah,  cukup angkat lah bahumu,  dan saksikan langit diangkasa yang masih megah berdiri dan saling menguatkan..
Sebab hidup bukanlah kau berpijak dibumi dan merasa kehausan.  Namun,  keindahan hingga kematianmu lah yang menjadikanmu seorang bidadari yang tengah berdiri di atas bukit dan menyesap kekuatan yang dulu kau bangun dalam kemuliaan jiwamu dan kau tuai didepan penglihatanmu, esok :))) bersyukurlah :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

please welcome :)