Jumat, 17 April 2015

SASTRO ARDJO'S FAMILY

Tiada kesan tanpa kehadiranmu... 21 tahun ini, dan begitulah hidupku telah berjalan apa adanya, dengan beberapa hal yang terjadi dan terjadilah..

Tentu aku memiliki masa depan yang aku penuhi dengan harapan-harapan besarku. dan aku pun memiliki masa lalu, yang sebenarnya tak semuanya akan berlalu, hanya waktu saja yang sedang membuat "kami" datang dan pergi. Seperti halaman dalam buku yang sedang kubaca, terkadang aku akan kembali ke halaman yang lalu hanya karena aku masih merindukan bagian yang sudah kubaca.

Kami telah hidup dalam integral waktu yang membawa kami melewati jaman demi jaman. Ketika kami tengah ditimang dan tak mampu berbicara, hingga kami mulai belajar dan bermain, pada akhirnya kami mulai memahami setiap kejadian demi kejadian, dan perbedaan diantara sesama kami. Waktu yang mempertemukan dan memisahkan kami dengan setiap kesempatan yang sedang terjadi hingga pada akhirmya berlalu dan terlewat sangat jauh.

Sejak sedari aku tumbuh menjadi pemuda saat ini, beberapa hal pasti ada yang selalu terlupa, teringat, bahkan terbayangkan namun tak ada pandangan, terkadang sedikit ironis setiap alur pemikiran dan perasaan manusia yang dibolak balikkan.

Beberapa waktu lalu, tepatnya 1 april 2015, hari itu aku melakukan sebuah kesalahan demi sebuah kesempatan. kesempatan yang belum tentu datang, dan kesalahan yang mengajarkanku keikhlasan.

Aku memutuskan beramgkat ke ibu kota negara ini untuk bertemu sanak saudara dan menghadiri pesta pernikahan sepupuku, namanya Reza Anugrah, putra pertama pamanku yang bernama Bambang Wiyono (anak dari kakek Sastro Ardjo). dengan kereta api express aku menikmati setiap kecepatan yang bisa aku rasakan dan setiap stasiun yang dilewati dengan sajian desain ala setiap kotanya, hingga pada tujuan stasiun akhir "Stasiun Pasar Senen-Jakarta" kami turun dari kereta dan kuhembus segar oksigen jakarta di malam hari, sedikit sejuk dengan suasana berbeda, namun tak sedikit hingar bingar dan kesibukan penumpang lainnya yang hampir senasib seperti kami.

Oya, aku berangkat kesana dengan paman Sunardi (anak pertama dari kakek Sastro Ardjo), bibi, sepupu (beliau sangat mencintai alm ayahku) dan dua keponakanku fira dan faiz. oya adikku juga ikut. keluargaku tetap di Surabaya karena mereka harus bekerja. setelahnya kamu berjalan keluar, dan yang bisa aku sadari, aku melihat dari kejauhan sosok pria bijaksana yang pasti kutebak dia adalah pamanku (Bambang Wiyono) aku tak pernah melihat dia sebelumnya, ingatanku belum mampu memproses karena terlalu banyak memori yg harus aku pahami saat aku umur 3 tahun terakhir kali aku bertemu mereka. tapi situ aku berani berkata beliau adalah pamanku, insting dalam bersaudara pasti ada kesamaan frekuensi. dan bersama sepupu, sepupu yang pertama kali aku kenal dan aku lihat, hatma wiardiyahto (katanya di nama BBMnya) panggilnya "mas ardi" saja. kesan pertama, kedua orang itu sama sama lembut dan penyayang, peduli, dan tentunya mereka sangat menerimaku. selanjutnya aku bertemu dengan beberapa orang asing seusia mamaku, omaigat mereka itu sepupuku (2 anak perempuan dari alm bibiku tertua, dan 1 kakak ipar mereka).

di rumah paman, aku mengenal oma, mertua paman sekaligus ibu dari bibi evy (istri paman). bibi evy sosok yang luar biasa, peduli, tegas, bersemangat, mengayomi, dan tidak perhitungan sama sekali kepada semua saudaranya. selain itu dia mampu memanaje kami saudara dari suami dan saudaranya dari keluarganya. aku bertemu anaknya, anak kedua yang selama ini dalam bayanganku, tapi tak mampu aku bayangkan. Tara Mutiara Iswara, dia sangat cantik, rambutnya hitam dan cukup panjang, peduli dengan saudaranya, supel,menyenangkana kok, hehehe, hingga aku mengenal keponakanku yang lain, namanya Achmad Zulfikar, awalnya dia agak cuek sih, tapi tak apalah, namanya juga baru bertemu, dan dia sudah kuliah di semester duanya, waawwwwww aku uda tante tante. ini ini bagian yang gak kalah hebatnya, aku bertemu dengan sepupuku namanya "Mas Djati/ aslinya si Panji namanya" entah dari mana asal namanya. hmmm untuk yang satu ini itu jagoan ku, orangnya supel, asik, kece, dengan badan yang lebih kekar dan berani, great deh ya, apalagi denganm senjatanya yang bikin aku ga berhenti tertawa. dia peduli sama saudaranya, penyayang banget.. kakakable aslinya. hmmm cara dia snoring yang ga pernah bisa aku lupakan. dia survive di semua tempat dimanapun,
Nahhhhh, ini nihhh sahabat tak lekang oleh waktuuu, makin lama makin tersayangg, dulu ini pendiam kesannyaa, tapi sekarang uda kayak terompet ajaaa. heaa mas hardi. walaupun senior, tapi jiwa mudanya mas kena aliran JKT48 bangett, ngakunya sih suka nabillah, ya paham lah.. doakan saja jodohnya secantik itu.... tp yang paling berkesan bukan karena asiknya sih. mas hardi itu sosok kakak yang matangt, gentle, dewasa, pengertian juga loh. pikirannya sumpah, behh uda bukan cowok menye-menye lagi, didepanku sih gituuu. asik aja sama gaya naturalnya ituu. huahuahauaaa.... :D

hmm banyak cerita sih sebenarnya, mbak upik yang ramah dan seusia sama akuu, sepantaraan, waah bangga dong ga junior junior banget... mba yekti yang paling senior tapi hatinya paling lembuttt. waktu kami sharing bukannya yang cerita yang sedih, ehh mbaknya yang meong meong duluan. yang kutangkap dari keluarga kami sih, kami penuh ceriaaa, dan kasih sayang. seperti kehidupan yang akan selalu dihidupkan kembali dari waktu demi wakunya. maksudku akan selalu ada judul dan kerinduan setelah pertemuan dan kesempatan yang menakdirkan kami bersamaaa..

usia tak pernah memberi jarak kepada kami, jarak waktu akan menjadi sejengkalan ketika kebersamaan itu menjadi kesempatan bagi kami. waktu juga tak akan menghakimi, sekalipun belasan tahun diri kami saling ditarik oleh jaman dan keaaadaan yang berbeda nyata satu sama lainnya. lihatlah, bahwa akan selalu ada halaman yang terselip untuk menyambung cinta dan kerinduan, walau sering terpisah, tak apa asal yang bahagia lebih banyak :)

penuh cinta kami dengan keluarga ini---

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

please welcome :)